Kamis, 06 Agustus 2015

Landasan Teori Pembuatan Larutan Standar KMnO4 0,1N



PERMANGANOMETRI

A.   PEMBAHASAN


Permanganometri merupakan metode titrasi dengan menggunakan kalium permanganat, yang merupakan oksidator kuat sebagai titran. Titrasi ini didasarkan atas titrasi reduksi dan oksidasi atau redoks. Kalium permanganat telah digunakan sebagai pengoksida secara meluas lebih dari 100 tahun. Reagensia ini mudah diperoleh, murah dan tidak memerlukan indikator kecuali bila digunakan larutan yang sangat encer. Permanganat bereaksi secara beraneka, karena mangan dapat memiliki keadaan oksidasi +2, +3, +4, +6, dan +7. Standarisasi dapat dilakukan dengan beberapa reduktor, seperti : As2O3, Fe, Na2C2O4, H2C2O4.2H2O, KHC2O4, K4{Fe(CN)6}, Fe(NH4)2(SO4)2.
Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu. Titrasi dengan KMnO4 sudah dikenal lebih dari seratus tahun. Kebanyakan titrasi dilakukan dengan cara langsung atas alat yang dapat dioksidasi seperti Fe+, asam atau garam oksalat yang dapat larut dan sebagainya. Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi dapat dititrasi secara tidak langsung dengan permanganometri seperti:
(1) ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn, dan Hg (I) yang dapat diendapkan sebagai oksalat. Setelah endapan disaring dan dicuci, dilarutkan dalam H2SO4 berlebih sehingga terbentuk asam oksalat secara kuantitatif. Asam oksalat inilah yang akhirnya dititrasi dan hasil titrasi dapat dihitung banyaknya ion logam yang bersangkutan.
(2) ion-ion Ba dan Pb dapat pula diendapkan sebagai garam khromat. Setelah disaring, dicuci, dan dilarutkan dengan asam, ditambahkan pula larutan baku FeSO4 berlebih. Sebagian Fe2+ dioksidasi oleh khromat tersebut dan sisanya dapat ditentukan banyaknya dengan menitrasinya dengan KMnO4.
Pada proses titrasi permanganometri tidak perlu ditambahkan indikator untuk mengatahui terjadinya titik ekivalen, karena MnO4 - yang berwarna ungu dapat berfungsi sebagai indikator sendiri ( auto indikator ).
Reaksi reduksi ion permanganat (MnO4 -) tergantung pada suasana larutan. Dalam suasana asam ion permanganat (MnO4 -) yang berwarna ungu mengalami reduksi menjadi Mn2+ yang tidak berwarna menurut reaksi :

MnO4 -   +   8H+   +   5e-         ®            Mn2+   +   4H2O

Dengan demikian, 1 ekivalen MnO4 -  = 1/5 mol, atau berat ekivalen (BE) = 158/5 = 31,6. Dalam suasana asam ini dapat digunakan untuk menentukan secara langsung berbagai macam kation maupun anion, antara lain :
        Kation / anion                               Hasil oksidasi
       Fe2+, Sn2+, VO2+, H2O2                Fe3+, Sn4+, VO3 -, O2
           Mo3+, As3+, Ti3+, U4+                  Mo3+, As3+, Ti3+, U4+
       C2O4 2-, NO2 -, SO3 2-                      CO2, NO3 -, SO4 2-
Sedangkan secara tidak langsung, melalui penambahan reduktor berlebih dapat digunakan untuk menentukan : MnO4 -, Cr2O7 2-, Ce4+, MnO2, Mn3O4, PbO2, Pb2O3, dan Pb3O4.
Dalam suasana netral dan basa, MnO4 -  mengalami reduksi menjadi endapan MnO2 yang berwarna hitam, menurut reaksi :

MnO4 -   +   2H2O   +   3e-      ®         MnO2   +   4OH-

Dalam reaksi tersebut, 1 ekivalen MnO4 - = 1/3 mol, atau berat ekivalen   (BE) = 158/3 = 52,7. Zat-zat yang dapat ditentukan secara permanganometri dalam suasana netral dan basa ini antara lain garam-garam Mn(II), asam format, dan garam format.
Satu tetes 0,1 N permanat memberikan warna merah muda yang jelas pada volumen dari larutan yang biasa dipergunakan dalam titrasi. Warna ini dipergunakan untuk mengidentifikasi kelebihan reagen tersebut. Permanganat menjalani beragam reaksi kimia, karena mangan dapat hadir dalam kondisi-kondisi oksidasi +2, +3, +4, +6, dan +7. Kelebihan sedikit dari permanganat yang hadir pada titik akhir titrasi cukup untuk mengakibatkan terjadinya pengendapan sejumlah MnO2.
Teknik titrasi ini biasa digunakan untuk menentukan kadar oksalat. Permanganometri juga bisa digunakan untuk menentukan kadar belerang, nitrit, fosfit, dan sebagainya. Cara titrasi permanganometri ini banyak digunakan dalam menganalisa zat-zat organik.
Kalium permanganat merupakan oksidator kuat dalam larutan yang bersifat asam lemah, netral atau basa lemah. Titrasi harus dilakukan dalam larutan yang bersifat asam kuat karena reaksi tersebut tidak terjadi bolak-balik, sedangkan potensial elktroda sangat bergantung pada pH. Pereaksi kalium permanganat bukan merupakan larutan baku primer dan karenanya perlu dibakukan terlebih dahulu.
Titrasi dilakukan dalam lingkungan asam, sebab untuk menjaga supaya konsentrasi hidrogen ion (H) tetap selama titrasi berlangsung karena dalam lingkungan netral atau basa sebagian dari KMnO4 diubah menjadi MnO4 sehingga larutan berwarna coklat yang akan menyukarkan pengamatan pada titik akhir titrasi. Sebagai asam umumnya digunakana H2SO4 encer tidak dapat digunakan HCl, HBr, HI, atau HNO3, sebab:
1.       HCl, HBr, HI akan dioksidsi sendiri oleh KMnO4.
2.       HNO3 sendiri bersifat sebagai oksidator .
Reaksi ini berjalan lambat dalam keadaan asam, tapi cepat dalam keadaan netral. Kelebihan sedikit dari permanganate yang hadir pada titik akhir dari titrasi cukup untuk mengakibatkan terjadinya pengendapan sejumlah MnO2. Bagaimanapun juga, mengingat reaksinya berjalan lambat, MnO2 tidak diendapkan secara normal pada titik akhir titrasi-titrasi permanganate.
Tindakan pencegahan khusus harus dilakukan dalam pembuatan larutan permanganate. Mangan oksida mengkatalisis dekomposisi larutan permanganate. Jejak-jejak dari MnO2 yang semula ada dalam permanganate, atau berbentuk akibat reaksi antara permanganate dengan jejak-jejak dari agen-agen pereduksi di dalam air, mengarah pada dekomposisi. Tindakan-tindakan ini biasanya berupa larutan Kristal-kristalnya, pemanasan untuk menghancurkan substansi-substansi yang dapat direduksi, dan penyaringan melalui asbestos atau gelas yang disinter (filter-filter non pereduksi) untuk menghilangkan MnO2. Biasanya sebelum disaring dipanaskan terlebih dahulu selama 15-30 menit, jika tidak dipanaskan, sebagai alternative larutan didiamkan dalam suhu ruang selama 2-3 hari. Larutan tersebut kemudian distandardisasi, dan jika disimpan dalam gelap dan tidak diasamkan, konsentrasinya tidak akan banyak berubah selama beberapa bulan. Larutan kalium permanganate harus disimpan dalam tempat yang bersih, berbahan kaca dengan warna gelap yang sebelumnya telah dibersihkan dengan larutan pembersih kemudian dibilas dengan deionised water.



B. INDIKATOR
Dalam titrasi permanganometri tidak diperlukan indikator, karena larutan standar KMnO4.sudah berfungsi sebagai indikator sendiri (auto indikator) yaitu MnO4 bewarna merah violet setelah dereduksi menjadi Mn² yang tidak berwarna dan didalam jumlah yang sedikit mennyebabakan jambon pucat.
Aplikasi lain KMnO4 adalah sebagai reagen untuk mensintesis senyawa organik dalam jumlah signifikan dibutuhkan untuk sintesis asam askorbat, kloramfenikol, sakarin, asam isonikotinat dan asam pirazionik.


C. LARUTAN STANDARD
Dalam suatu titrasi bila larutan titran dibuat dari zat yang kemurniannya tidak pasti, perlu dilakukan pembakuan. Untuk pembakuan tersebut digunakan zat baku yang disebut larutan baku primer. Larutan standar primer adalah larutan dimana kadarnya dapat diketahui secara langsung dari hasil penimbangan. Contohnya K2Cr2O4, As2O3 dan sebagainya. Adapun syarat–syarat larutan standar primer adalah :

1.      Mudah diperoleh dalam bentuk murni
2.      Mempunyai kemurnian tinggi
3.      Mempunyai rumus molekul yang pasti
4.      Tidak mengalami perubahan saat penimbangan
5.     Mempunyai berat ekivalen yang tinggi jadi kesalahan penimbangan dapat diabaikan.

http://nenyrahmawati.blogspot.com/p/chemistry.html

Kelebihan dan Kekurangan Permanganometri

1. kelebihan
  • mudah dilakukan dan efektif
  • tidak memerlukan indicator
Titrasi permanganometri ini lebih mudah digunakan dan efektif, karena reaksi ini tidak memerlukan indicator, hal ini dikarenakan larutan KMnO4 sudah berfungsi sebagai indicator, yaitu ion MnO4- berwarna ungu, setelah diredukdsi menjadi ion Mn-tidak berwarna, dan disebut juga sebagai autoindikator.

2. Kekurangan
  • larutan kalium permanganat jika terkena cahaya atau dititrasi cukup lama maka mudah terurai menjadi MnO2 , sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat. Oleh karena itu penggunaan buret yang berwarna gelap itu lebih baik.
  • Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4- dengan Mn2+. Dengan reaksi :

MnO4- + 3Mn2+ + 2H2O ↔ 5MnO2 + 4H+

Oleh karena itu pula, penambahan pentiter pada proses titrasi  harus sedikit demi sedikit, agar kesalahan dalam menentukan titik akhir titrasi dapat dihindari.
Sumber-sumber kesalahan pada titrasi permanganometri, antara lain terletak pada: Larutan pentiter KMnO4¬ pada buret Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama, larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO2 sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang seharusnya adalah larutan berwarna merah rosa. Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4- dengan Mn2+. MnO4- + 3Mn2+ + 2H2O ↔ 5MnO2 + 4H+ Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangan oksalat karena membentuk peroksida yang kemudian terurai menjadi air. H2C2O4 + O2 ↔ H2O2 + 2CO2
 H2O2         H2O  +  O2

Hal ini dapat menyebabkan pengurangan jumlah KMnO4 yang diperlukan untuk titrasi yang pada akhirnya akan timbul kesalahan titrasi permanganometri yang dilaksanakan.
Manfaat Titrasi Permanganometri
Untuk mengetahui kadar dari zat-zat yang bilangan oksidasinya masih dapat dioksidasi. Dalam bidang industri, metode ini dapat dimanfaatkan dalam pengolahan air, dimana secara permanganometri dapat diketahui kadar suatu zat sesuai dengan sifat oksidasi reduksi yang dimilikinya, sehingga dapat dipisahkan apabila tidak diperlukan atau berbahaya.
terror-error.blogspot.com/2013/06/permanganometri.html

Kalium Permanganat (KMnO4)

Kalium permanganat memiliki nama lain yaitu chameleon mineral, CI 77755, kristal condy’s dan cairox. Merupakan kristal yang berwarna ungu menjadi kristal perunggu dan stabil. Apabila kontak dengan senyawa yang mudah menyala akan menyebabkan kebakaran dan dijauhkan dari senyawa pereduksi, asam kuat, material organik, peroksida, alkohol dan senyawa kimia logam aktif. Kalium permanganat merupakan oksidator kuat.
Sifat-sifat fisik dari kalium permanganat adalah
1
Penampakan
Kristal ungu seperti kristal perunggu
2
Titik lebur
150 0C (terdekomposisi)
Dari hasil penelitian toksisitas kalium permanganat adalah sebagai berikut:
  • Apabila dimakan oleh tikus dengan dosis 1090-2157 mg/kg mengakibatkan kematian sebanyak 50 % (LD50).
  • Apabila dimakan oleh wanita dengan konsentrasi terkecil 100 mg/kg mengakibatkan kematian.
  • Apabila dimakan oleh babi dengan dosis 1151 mg/kg mengakibatkan kematian sebanyak 50 % (LD50).
Senyawa ini panas apabila dimakan atau dihisap, juga mengakibatkan panas apabila terjadi kontak dengan kulit. Dengan sedikit larutan potasium permanganat dapat menyebabkan melarutkan seng dengan menggunakan air yang banyak.
Pencegahan yang dapat dilakukan apabila terkena kalium permanganat:
Mata : sesegera mungkin bilas dengan menggunakan air yang banyak, lakukan hal tersebut kurang lebih selama sepuluh menit.
Kulit : cuci dengan menggunakan air yang banyak. Buang kain yang telah terkena zat tersebut, jika kuit terlihat rusak maka segera bawa ke dokter.
Tertelan : sesegera mungkin pergi ke dokter.
Untuk keselamatan kerja sebaiknya perhatikan hal-hal berikut ini:
  1. Jauhkan dari senyawa yang mudah terbakar
  2. Jika terkena mata, segeralah bawa ke dokter
  3. Gunakan pakaian dan sarung tangan yang layak dipakai dan dapat melindungi kita.
  4. Gunakan masker wajah
  5. Jika sudah merasa tidak enak badan, segeralah bawa ke dokter
Bottom of Form

Selasa, 25 Februari 2014

Penetapan Cu dalam CuSo4.5H2O (garam terusi)


PENETAPAN Cu DALAM GARAM TERUSI (CuSo4.5H20)

Dasar Prinsip: Larutan garam tembaga (II) panas diendapkan dengan larutan basa kuat (NaOH/KOH), menjadi endapan Cu(OH)2 yang berwarna biru, setelah dipanaskan memecah menjadi CuO yang berwarna hitam kecoklatan.

Landasan Teori:

Salah satu logam yang cukup terkenal dari golongan transisi adalah tembaga (Cu). Merupakan satu dari tiga logam dalam golongan I.B atau golongan koin. Tembaga banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari salah satunya sebagai bahan dasar kabel listrik karena daya hantar listriknya yang sangat tinggi. Tembaga atau Cuprum berlambang unsur Cu berasal dari bahasa Yunani kypros atau sipros berarti merah. Tembaga adalah salah satu dari dua logam di bumi selain emas yang berwarna merah atau kekuninga, mempunyai nomor atom 29 dengan kepadatan 8,92g/cm3. Tembaga murni mencair pada suhu 1083°C dan akan menjadi uap atau mendidih pada suhu 2567°C pada tekanan normal. Pada sistem periodik unsur masuk di golongan IB, satu golongan dengan perak dan emas yang berarti bahwa tembaga adalah salah satu dari logam mulia, itu karena tingkat kereaktifannya yang rendah. Tembaga juga banyak digunakan dalam bentuk senyawanya, salah satu yang paling terkenal adalah tembaga sulfat pentahidrat ( CuSO4.5H2O) atau lebih dikenal dengan terusi adalah kristal berwarna biru, cukup banyak dijumpai di laboratorium kimia sebagai bahan penyerap air pada eksikator.

          Tembaga mudah larut dalam asam nitrat dan dalam asam sulfat dengan adanya oksigen. Ia juga mudah larut dalam larutan KCN atau amonia dengan adanya oksigen, membentuk kompleks [Cu(NH3)4]2+. Kompleks tembaga itu memiliki bilangan koordinasi enam, dimana empat ligan bertetangga dalam segi empat dan dua ligan yang lain saling tegak lurus bidang segi empat membentuk struktur oktahedral. Penambahan ligan dalam larutan akan menyebabkan pertukaran kompleks dengan molekul air secara berurutan. Dengan NH
3 misalnya, spesies [Cu(NH3)4]2+. Kompleks ini dibentuk dengan cara manual, namun penambahan molekul NH3 yang kelima dan keenam sulit. Molekul keenam hanya dapat ditambahkan dalam cairan amonia. Hal inilah yang mungkin terjadi pada pembentukkan kompleks dan garam rangkap.

          Tembaga atau kuprum adalah unsur kimia dalam tabel periodik mempunyai simbol Cu dan nomor atom 29. Ia merupakan logam mulur yang memiliki kekonduksian elektrik yang sangat baik dan digunakan secara meluas sebagai pengalir elektrik. Tembaga adalah logam kemerahan denga kekonduksian elektrik dan kekonduksian yang tinggi ( antara semua logam-logam murni dalam suhu kamar, tetapi perak memiliki kekonduksian lebih tinggi daripadanya). Apabila dioksidasi, tembaga adalah basa lemah. Tembaga memiliki warna yang khas oleh sebab struktur jalumnya, yaitu ia memantul kan cahaya merah dan jingga dan menyerap frekuensi-frekuensi lain spektrum tampak. 


          Ada dua seret senyawa tembaga. Senyawa-senyawa tembaga (I) diturunkan dari tembaga (I) oksida CuO2 yang merah, dan mengandung ion tembaga (I) Cu+. Senyawa-senyawa ini tidak berwarna, kebanyakan garam tembaga (I) tak larut dalam air, perilakunya mirip perilaku senyawa perak (I). Beberapa senyawa kimia dapat mengikat molekul-molekul air pada suhu kamar membentuk hidrat. Umumnya senyawa hidrat ini akan melepaskan molekul airnya jika dipanaskan, meskipun penggabungan molekul air tersebut berlangsung secara kimia.


          Pada kenyataannya, molekul hidrat merupakan suatu persenyawaan kimia dan bukan campuran. Hal ini dapat dijelaskan dengan alasan-alasan sebagai berikut :

" molekul air terikat dalam senyawa dengan perbandingan tertentu, misalnya garam tembaga sulfat, CuSO4 kandungan molekul airnya adalah 36,07 %. Selain itu terdapat perbedaan sifat fisika antara senyawa dalam senyawa bentuk hidrat dan anhidrat. Bentuk tembaga (II) sulfat hidrat misalnya adalah triklin dan berwarna biru. Jika molekul airnya dilepaskan dengan cara pemanasan, maka molekul hidratnya akan berwarna putih, dengan bentuk molekul monoklin, Proses pendinginan akan meyebabkan molekul anhidrat tadi menyerap uap air di udara dan mengikat molekul air sebagai hidrat akan terjadi kembali, sehingga warna senyawa akan berubah menjadi biru dengan bentuk molekul triklin. Pelarutan tembaga, hidroksida, karbonat dan senyawa-senyawa Cu(II) dalam asam akan membentuk ion akuo yang berwarna hijau kebiruan [Cu(H2O)6]2+. Diantara berbagai kristal hidrat lainnya CuSO4.5H2O yang paling dikenal. CuSO4.5H2O biru dapat terhidrasi menjadi senyawa anhidrat yang berwarna putih. Penambahan ligan pada larutan akou akan menyebabkan pertukaran ligan akuo secara berurutan.

             Asam yang dapat melarutkan tembaga dan perak adalah asam nitrat. Asam ini adalah salah satu contoh dari asam pengoksidasi selain ion H+, larutan asam ini juga mengandung ion nitrat, suatu oksidator yang lebih pekat dari pada ion H+. Reaksi yang hebat tembaga dan HNO3 pekat diperlihatkan dengan menghasilkan gas merah cokelat yang keluar ialah nitrogen dioksida, NO2.


              CuSO4.xH2O yang dikenal dengan nama terusi atau blue vitriol digunakan sebagai fungisida, misalnya pada kolam renang. Kegunaan lain adalah pada pemurnian tembaga dan penyepuhan dengan sulfida, seperti chalcopite, tembaga. Tembaga di alam terdapat sebagai bronit, chalcocite, covelite, oksidasi seperti cuprite, ferronite


             Analisis gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suau unsur atau senyawa tertentu. Bagian terbesar dari penentuan secara analisis gravimetri  meliputi transformasi unsur atau radikal ke senyawa murni stabil yang dapat ditimbang dengan teliti. Berat unsur dihitung berdasarkan rumus senyawa dan berat atom unsur-unsur yang menyusunnya. Penentuan jumlah zat didasarkan pada penimbangan, dalam hal ini penimbangan hasil reaksi setelah bahan yang dianalisa direaksikan dibentuk dari bahan yang dianalisa itu. Bentuk berdasarkan macam hasil yang ditimbang ada cara evolusi dan cara pengendapan. Cara evolusi, bahan direaksikan sehingga timbul gas. Caranya dengan memanaskan bahan tersebut dengan mereaksikan dengan suatu pereaksi. Pada umumnya yang dicari adalah banyaknya gas yang terjadi. Cara mencari jumlah gas tersebut dapat tidak langsung dan langsung. Gravimetri tidak langsung yaitu analatlah yang ditimbang setelah bereaksi, berat gas diperoleh sebagai selisih berat analat sebelum dan sesudah reaksi. Gravimetri langsung yaitu gas yang terjadi ditimbang setelah diserap oleh suatu bahan yang khusus untuk gas yang bersangkutan. Sebenarnya yang ditimbang adalah bahan penyerap itu baik sebelum dan sesudah penyerapan, sedangkan berat gas diperoleh sebagai selisih kedua penimbangan. Cara pengendapan analt direaksikan sehingga terjadi suatu endapan dan endapan itulah yang ditimbang. Atas dasar pembentukkan endapan, gravimetri dibedakan menjadi dua macam : 

  1. Pertama, endapan dibentuk dengan reaksi antara analat dengan dengan suatu pereaksi, baik kation maupun anion dari analat yang mungkin diendapkan dan bahan pengendapannya mungkin organik atau anorganik. 
  2. Kedua, endapan dibentuk dengan elektrokimia, dengan perkataan lain dielektrolisa sehingga terbentuk logam sebagai endapan. Cara ini disebut elektrogravimetri.

 
Reaksi:


CuSo4.5H2O CuSo4 + 5H2O

CuSo4 + 2NaOH Cu(OH)2 + Na2So4

Cu(OH)2 CuO + H2O↑
 


 

 

Senin, 29 Juli 2013

Pengenalan Alat Kaca di Laboratotium

Peralatan Laboratorium terbuat dari Kaca / Glassware


1. Tabung reaksi (test tube)

Tersedia berbagai ukuran tabung reaksi yang besarnya ditentukan berdasarkan ukuran diameter. Berbagai macam  ukuran tabung reaksi adalah (10 x 75; 12 x 100; 16 x 150; 24 x 150) mm
Tabung reaksi berfungsi :
  1. Untuk tempat mereaksikan dua larutan / bahan kimia atau lebih
  2. Sebagai tempat pengembang- biakanan mikroba, misalnya pada pengujian penentuan jumlah bakteri.
Tabung reaksi dalam penggunaannya biasanya dibantu dengan penjepit kayu untuk memudahkan pemanasan bahan yang direaksikan dan untuk menghindari bahaya yang ditimbulkan dari reaksi.
2. Gelas kimia /gelas beker (beaker)

Tersedia berbagai ukuran gelas beker diantaranya: 50 ml, 100 ml, 250 ml, 500 ml, 1000 ml, dan 2000 ml. Fungsi dari gelas beker diantaranya adalah :
  1. Sebagai tempat mereaksikan bahan kimia
  2. Membuat larutan, untuk menempatkan larutan
  3. Menampung bahan kimia berupa larutan, padatan, pasta ataupun tepung
  4. Melarutkan bahan dan memanaskan bahan.
3. Erlenmeyer
Tersedia berbagai ukuran erlenmeyer diantaranya adalah : (25, 50, 100, 200, 250, 300, 500, 1000, 2000, 3000, 5000) ml.

Fungsi tabung erlenmyer diantaranya adalah:
  1. Sebagai tempat mereaksikan bahan kimia
  2. Untuk menempatkan larutan yang akan dititrasi
  3. Sebagai wadah media untuk pertumbuhan mikroba
4. Gelas ukur (measuring cylinder)
         
Gelas ukur mempunyai bentuk seperti pipa yang mempunyai kaki/ dudukan sehingga dapat ditegakkan. Pada bibir atas terdapat bibir tuang untuk memudahkan dalam menuang larutan atau cairan. Gelas ukur terbuat dari gelas, tetapi tersedia juga yang terbuat dari plastik tahan bahan kimia. Pada badannya terdapat skala dan di bagian atas terdapat tulisan yang menyatakan kapasitas gelas ukur tersebut. Alat ini digunakan untuk mengukur suatu larutan dengan volume tertentu yang tidak memerlukan ketelitian tingkat tinggi.
Kapasitas yang tersedia:
No.
Kapasitas (mL)
Sub Skala (mL)
Toleransi ± mL
1
5
0,1
0,1
2
10
0,2
0,2
3
25
0,5
0,5
4
50
1,0
1,0
5
100
1,0
1,0
6
250
2,0
2,0
7
500
5,0
5,0
8
1000
10,0
10,0
9
2000
20,0
20,0
5. Labu ukur (volumetric flask)
Tersedia dalam berbagai ukuran : 25ml, 50 ml, 100 ml, 250 ml, 500 ml, 1000 ml, 2000 ml.

Kegunaan : untuk mengencerkan larutan dengan volume tertentu, dimana alat ini mempunyai ketelitian lebih tinggi dari pada gelas ukur  dan gelas beker
6. Corong pemisah (separator funnel)
        
Tersedia berbagai ukuran corong pemisah diantaranya adalah : 250 ml, 500 ml dan 1000 ml. Corong pemisah berfungsi untuk memisahkan cairan atau pasta dari dua campuran atau lebih yang berbeda berat jenisnya. Dalam penggunaannya corong pemisah biasanya ditempatkan pada ring besi yang dipasang pada statif.
7. Labu distilasi (distillation flask).

Distilasi adalah metode pemisahan campuran berdasarkan perbedaan volatilitas komponen dalam campuran cairan mendidih. Distilasi adalah unit operasi, atau proses pemisahan fisik, dan bukan reaksi kimia.
Komersial, distilasi memiliki sejumlah aplikasi. Hal ini digunakan untuk memisahkan minyak mentah menjadi fraksi yang lebih untuk menggunakan spesifik seperti pembangkit transportasi, listrik dan pemanas. Air suling untuk menghilangkan kotoran, seperti garam dari air laut. Air suling untuk memisahkan komponen-terutama oksigen, nitrogen, dan argon-untuk keperluan industri. Penyulingan solusi fermentasi telah digunakan sejak zaman kuno untuk menghasilkan minuman suling dengan kadar alkohol yang lebih tinggi. Tempat di mana distilasi dilakukan, terutama distilasi alkohol, dikenal sebagai penyulingan.
Bahan borosilikat. Berlengan, kapasitas 125, dilengkapi karet penutup berlubang kira-kira 6 mm.
Kegunaan : Untuk wadah zat yang akan mengalami proses distilasi.
Borosilikat
  • 70 % s/d 80 % (SiO2)
  • 7 % s/d 13 % (B2O3)
  • 4 % s/d 8 % Na2O atau K2O)
  • 2 % s/d 7 % (Al2O3)
  • 0 % s/d 5 % (CaO atau MgO)
8. Pipet tetes (dropper disposable pipet)

Tersedia hanya satu jenis pipet tetes. Pipet tetes berfungsi untuk membantu memindahkan cairan dari wadah yang satu ke wadah yang lain dalam jumlah yang sangat kecil dari tetes demi tetes. Hal ini penting terutama dalam membantu menepatkan pengukuran larutan dan pada waktu pengenceran.
9. Pipet Volume (Pipette Volumetric)
  
Tersedia dalam berbagai ukuran : 1 ml, 2 ml, 5 ml, 10 ml, 25 ml, 50 ml
Kegunaan : untuk mengambil larutan dengan volume tertentu dan mempunyai ketelitian lebih tinggi dari pada gelas ukur.
Sering juga disebut dengan pipet gondok, karena adanya temboloknya.

10. Pipet Ukur (Measuring Pipette)


Tersedia dalam berbagai ukuran missal : 5 ml, 10ml, 25 ml
Kegunaan : untuk mengambil larutan dengan volume tertentu dan mempunyai ketelitian lebih tinggi dari pada gelas ukur.
11. Kaca arloji (watch glass)

Tersedia beberapa ukuran kaca arloji yang ditunjukkan oleh garis tengahnya, misalmua 76 mm, 100 mm, 150 mm.
Fungsi kaca arloji adalah :
  1. sebagai tempat menimbang bahan berupa padatan atau pasta,
  2. menutup wadah saat proses penguapan atau pemanasan.
  3. Tempat untuk mengeringkan padatan dalam desikator

12. Kawat ose / kawat nicrom

Diameter 0.5 mm, panjang: 150 mm, Tangkai pemegang: gelas.
Kegunaan : Untuk megnidentifikasi zat dengan cara uji nyala
Untuk mengambil bakteri dan menanam bakteri di media tanam.

Contoh warna nyala unsur natrium
13. Cawan petri (petri dish)

Cawan petri : berbentuk seperti gelas kimia yang berdinding sangat rendah. Terbuat dari kaca borosilikat tahan panas. Cawan petri selalu berpasangan, yang lebih besar sebagai tutup, yang lebih kecil sebagai wadah.
Fungsinya :
  1. sebagai wadah menimbang
  2. menyimpan bahan kimia
  3. membantu menumbuhkan mikroha pada analisa mikrobiologi
14. Termometer air raksa dan termometer alkohol,
  
Berguna untuk mengukur suhu larutan.
15. Buret
     
Tersedia dalam berbagai ukuran missal : 10ml, 25 ml, 50 ml
Kegunaan : Menempatkan larutan tertentu yang akan digunakan untuk titrasi. Pada prinsipnya buret juga merupakan alat ukur.
16. Bunsen spiritus/Lampu spiritus/pemanas spiritus,

Berguna untuk membakar/reaksi dengan pemanasan.
17. Corong (funnel)
     
Tersedia berbagai ukuran corong gelas diantaranya adalah kecil, sedang dan besar. Corong gelas  berfungsi untuk membantu memindahkan larutan dari wadah yang satu ke wadah yang lain terutama yang bermulut kecil. Corong gelas kecil digunakan untuk memindahkan larutan kurang dari 100 ml, sedangkan corong sedang untuk 100-500 ml dan yang besar untuk larutan larutan yang lebih dari 500ml. Disamping untuk membantu memindahkan larutan dari wadah yang satu ke wadah yang lain corong gelas digunakan pula untuk membantu proses penyaringan khususnya untuk menaruh kertas saring.
19. Desikator (desiccator)
    
Desikator berupa panci bersusun dua yang bagian bawahnya diisi bahan pengering, dengan penutup yang sulit dilepas dalam keadaan dingin karena dilapisi vaseline. Ada 2 macam desikator : desikator biasa dan vakum. Desikator vakum pada bagian tutupnya ada katup yang bisa dibuka tutup, yang dihubungkan dengan selang ke pompa. Bahan pengering yang biasa digunakan adalah silika gel.
Fungsi :
a.  Tempat menyimpan sampel yang harus bebas air
b.  Mengeringkan padatan
20. Piknometer,
     
Terdapat beberapa macam ukuran dari piknometer, antara lain : 10 ml, 25 ml, 50 ml dan 100 ml, dimana nilai volume ini valid pada temperature yang tertera pada piknometer tersebut.
Piknometer berguna untuk mengukur nilai massa jenis atau densitas fluida.
21. Erlenmeyer berlengan / Erlenmeyer Buchner
  
Alat ini berupa gelas yang diameternya semakin ke atas semakin mengecil, ada lubang kecil yang dapat dihubungkan dengan selang ke pompa vakum. Terbuat dari kaca tebal yang dapat menahan tekanan sampai 5 atm. Ukurannya mulai dari 100 mL hingga 2 L. Dipakai untuk menampung cairan hasil filtrasi.
Cara menggunakannya :
Diawali dengan memasang corong Buchner di leher labu, pasang selang yang tersambung ke pompa vakum pada bagian yang menonjol.
22. Mikroskop.
Mikroskop adalah alat yang bisa kita pakai untuk melihat, atau mengenali benda-benda renik yang terlihat sangat kecil menjadi lebih besar dari aslinya, sehingga kita bisa meng-identifikasi benda tersebut dengan lebih tepat.
Banyak sekali jenis mikroskop yang ada sekarang ini, mulai dari yang paling sederhana sampai pada mikroskop elektron  yaiut sebuah mikroskop yang mampu untuk melakukan pembesaran objek sampai 2 juta kali, yang menggunakan elektro statis dan elektro magnetis untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan gambar serta memiliki kemampuan pembesaran objek serta resolusi yang jauh lebih bagus daripada mikroskop cahaya.
berikut adalah bagian-bagian mikroskop seperti yang biasa kita pakai di laboratorium :